Sabtu, 29 Juni 2013

Guru Dahsyat, Guru Yang Memikat

Anak perempuan itu berdiri di depan kelasnya. bahunya bergerak naik turun, lengan kanannya bolak balik mengusap wajahnya. Seorang guru wanita yang melihat itu segera menghampiri dan berjongkok disisinya, "Tessa.. why are you crying, dear?" tanyanya lembut. anak perempuan itu menunjuk kearah lapangan, "Nasir miss.. nasir call me with bad name, he call me big ! I don't like it, I am sad!.. Nasir is bad boy!" rajuknya kesal.

Guru itu menyeka air mata di wajah Tessa, kemudian membimbingnya ke dalam kelas. Beberapa kali ia melirik ke arah lapangan, tempat Nasir sedang berlarian dengan teman-teman lainnya, kemudian dilihatnya Nasir mendorong seorang kawannya hingga terjatuh.
Guru itu menarik nafas panjang. Bukan sekali ini Nasir berbuat ulah. Sebelum Tessa, ada lima orang teman sekelasnya yang merasa sakit hati akan perilaku Nasir.
Peringatan yang diberikan tidak mempan, punishment juga kurang berefek baik. Dialog dengan orang tuanya telah dilakukan, tapi Nasir masih sering berulah. Akhirnya diujung waktu istirahat, guru itu menemukan ide gemilang. Sebelum pelajaran dimulai, ia memanggil Nasir dan teman-teman sekelas yang pernah disakitinya.
Didepan kelas, dihadapan teman-temannya, guru tersebut meminta masing-masing anak yang pernah disakiti Nasir secara bergantian berdialog dengan Nasir, mengungkapkan isi hati dan perasaannya saat disakiti nasir. Saat berdialog itu mereka harus saling bertatapan mata.
Dimulai dari Andri yang kerap dikatai "gembrot" oleh Nasir. "Come on Andri tell Nasir, how you feel when Nasir told you fat?.." Ragu-ragu Andri membuka mulutnya, "Mmm... I was hurt..."
"Look at into his eyes, Nasir..." perintah guru itu.
Mata Nasir malah masih menyisiri ruangan kelas, sesekali saja ia menatap mata Andri. Tapi guru perempuan itu tidak menyerah, setiap Nasir memalingkan wajah, ia akan meminta Nasir kembali menatap mata lawan bicaranya.
"I am sorry..." akhirnya Nasir berkata.
Murid perempuan lebih emosional. Tessa dan Fira menyatakan isi hatinya sambil menangis, membuat Nasir salah tingkah dan menyorotkan tatapan iba. Di akhir sesi, guru bertanya kepada Nasir bagaimana perasaannya setelah mendengar curahan hati teman-temannya.
"I am sorry that I hurt them.." dengan raut sungguh-sungguh.
Ternyata taktik itu jitu. Di kemudian hari Nasir menjadi lebih peduli dengan perasaan teman-temannya.

Ilustrasi di atas merupakan pengalaman pribadi seorang guru dalam mendidik murid-muridnya di sebuah sekolah dasar.Menurutnya cara-cara mendidik dengan emosi ini akan ditemui seiring meningkatnya pengalaman mengajar dengan memasukkan unsur "cinta" di dalamnya.
Karena sudah memiliki visi dan berhasil 'menanamkan' paradigma yang tepat dalam mengajar, guru tersebut mengaku sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia tak menggunakan amarah lagi jika melihat ketimpangan yang dilakukan murid-muridnya. "Mereka masih anak-anak, wajar kalau berbuat salah, memang tugas kita memberitahu," lanjutnya bijak..

Terima kasih sudah membaca.. semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi menjadi seorang guru yang dahsyat dan guru yang memikat ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar